Senin, 02 Mei 2011

Zakat dan Hukumnya

Bab Zakat
Zakat Harta Simpanan
Usul 8 / B;1: Ada orang membeli barang dengan harga lebih dari Nisab tijarah, kemudian di simpan satu tahun untuk keperluan naik haji, apakah Zakatnya wajib atau tidak?
Jawab :Setiap orang membeli dan menyimpan barang dengan niat untuk mendapatkan untung, wajib di keluarkan zakatnya kalau sudah tiba haul dan cukup nisabnya, dan kalau sudah di jual maka putuslah nisab tijarahnya.



Nisab Tijarah indonesia
Usul 7 / B;1: Di Indonesia nisab tijarah itu apakah mengikuti Nisab Emas atau Perak?
Jawab : Perhitungan Nisab tijarah di Indonesia bersetandar dengan Uang Perak , karana Uang Indonisia bernsiab asalnya Perak. Dengan bukti sebutan rupiah , sedangkan uang emas di Indonesia tidak pernah di pakai menjadi alat jual beli.

Zakat yang di perhutangkan
Usul 10 / B : 4: Wajibkah di keluarkan zakat tijarahnya padi yang di perhutangkan satu atau dua tahun ?
Jawab : Kalau seseorang bertijarah padi, membeli dan menjual padi atau menyimpannya untuk menunggu harga yang lebih baik atau lebih mahal, sebagaiman juga halnya beli tembakau dan menyimpannya, maka wajib tijarahnya di perhutangkan atau tidak. Adapun padi atau tembakau hasil sawahnya sendiri yang di perhutangkan, tidak wajib di Zakatkan, kana sama halnya kalau di simpan padi tersebut di lumbung beberapa tahun lamanya tidak Wajib di zakatkan lagi, karena sudah cukup dengan zakat yang sudah di keluarkan suatu panen dahulu.


Perbedaan memperhutangkan
padi dan Uang pada zakatnya
Usul 11 / B : 4: Apakah ada perbedaan anatara memperhutangkan padi dengan memperhutangkan Uang pada masalah Zakat tijarah?
Jawab : Memperhutangkan Uang satu Nisab atau lebih sedangkan haulnya sudah tiba, wajib di Zakatkan dan boleh di keluarkan zakatnya setelah hutang tersebut di bayar, sekalipun haulnya sudah lewat beberapa tahun, karena ini merupakan Zakat simpanan bukan zakat Tijarah. Adapun memperhutangkan padi dengan arti meminjamkan padi yang akan di ganti dengan padi pula, maka tidak wajib di keluarkan zakatnya karena padi tersebut sudah di keluarkan zakatnya pada waktu panen, dan apabila di simpan oleh pemiliknya beberapa tahun lamanya tidak wajib di Zakatkan lagi. Tapi kalau padi yang di perhutangkan itu akan di bayar dalam tempo beberapa tahun ini bukan di namakan hutang ( قرض ) , tapi di namakan :( بيع المؤ جل ) Jual Beli bertempo, Adapun Masalah Zakat dari Jual beli yang bertempo : Kalau Padi yang di perhutangkan itu Padi Tijarah maka wajib di keluarkan zakat Tijarahnya. Dan sebaliknya, Kalau bukan padi tijarah tidak wajib di zakatkan.


Zakat Garapan
Usul 12 / B; 4 : Kalau kita Garapkan / sakapkan sawah sebanyak 5 Ha. Dan masing-masing penyakap mendapatkan hasil kurang dari sau Nisab, Bagaimanakah Masalah zakatnya:
Jawab: Si pemilik tanah tidak bertanggung jawab pada masalah zakatnya, dan yang bertanggung jawab pada masalah zakat tersebut adalah si penyakap / si penggarap. Dan apabila si penggarap mendapatkan hasil senisab atau lebih dialah yang wajib mengeluarkan zakatnya, dan sebaliknya.


Hutang yang lebih dari satu Niasab
Usul 14 / B; 4: seseorang berhutang barang-barang kepada seorang Kafir / Cina yang harganya lebih dari satu nisab, dan kita bayar di akhir bulan, demikian terus terjadi setiap bulan sampai satu atau dua tahun, Apakah wajib kita mengeluarkan zakat tijarahnya atau tidak ?
Jawab: Hutang – piutang tidak menghalangi wajibnya Zakat, dan pada masalah tersebut kalau pengusaha itu telah mempunyai senisab atau lebih dan telah datang bulannya, maka wajib zakat tijarahnya dan sebaliknya, kalau kurang senisab walaupun haulnya sudah datang tidak wajib baginya Zakat
.

Mengeluarkan zakat padi
dengan padi yang lain
Usul 17/ B;4 dan 5 : Bolehkah mengeluarkan Zakat padi yang belum di panan dan yang di pakai berzakat itu padi lain yang sejenis, sedangkan nisabnya di perkirakan ?
Jawab : Waktu di keluarkan zakat tanam-tanaman boleh di keluarkan setelah baik dan tuanya sekalipun sebelum keringnya dan belum di bersihkan, Adapun zakat yang di perkirakan itu kalau kurang dari semestinya maka wajib di cukupkan dan kalau lebih dari semestinya maka boleh ia memintak kembali selebihnya itu. Lihat ibarat “ utsmudul ain"
و زكا ة النا بت له اخراجها بعد وجوبها فيه اي بعد بدو صلاحها ولو قبل الجفاف و التنقية


Mengeluarkan zakat
dengan Uang
Usul 30 / B; 4: Mohon penjelasan tentang hokum mengeluarkan zakat Fitrah dengan uang , Misalnya : Pemotongan gaji pegawai seharga 21/2 Kg beras?
Jawab : Ibadah itu tiga macam:
1. Ibadah Maliyah Mahdah seperti smbahyang , ini tidak sah di kerjakan oleh orang lain walaupun dalam kadaan sakit keras
2. Ibadah maliyah Badaniyah seperti Haji, ini sah di kerjakan oleh orang lain dengan syarat dia sudah ma’dub dan dengan seizinnya.begitu pula kalau orangnya sudah mati dan belum pernah mengerjakan kewajiban haji, boleh di kerjakan oleh orang lain walupun tidak pernah berwasiat.
3. Ibadah Maliyah mahdah seperti sedeqah atau Akat, ini sah di laksanakan oleh orang lain kalau ia sudah mati walaupun tampa wasiat, dan kalu dia masih hidup sah juga di laksnakan oleh orang lain dengan syarat seizin dia, Adapun menngeluarkan zakat Fitrah dengan Uang , maka yaitu tidak sah atas mazhab syafi’I sekalipun mengeluarkan sendiri atau itu lebih bermanfa'at bagi mustahiqqin, dengan penjelasan di atas ternyata kalau potongan gaji tersebut untuk di belikan beras untuk jadi zakat tersebut dengan izinnya dan redha nya maka yaitu sah karena memberi zakat adalah ( Mimma yaqbalu Niayabah ) sah di laksanakan oleh orang lain, kalau tidak maka tidak sah.

Nisab Uang Indonesia
Usul 8 / B;8 : Berapakah Nisab Uang Indonesia ?
Jawab : Nafsu kertas tidak wajib zakatnya dan uang kertas itu adalah wadah, dan yang di wadahinya adalah perak maka itulah yang di zakatkan. Sedangkan perak nisabnya 200 dirham yaitu sama dengan 20 ringgit Belanda yang bersih dari campuran, dan kalau 20 ringgit tersebut di wadahkan dengan rupiah sama dengan : Rp: 60,000,-00. maka itulah Nisabnya.

Memberikan zakat
kepada para kariawannya
Usul 16/B;6: seorang petani menyuruh beberapa orang pembantu untuk mengarap sawahnya guna di tanami tanaman Zuru’ dengan tanpa di tentukan upahnya. Setelah selesai panen , menghasilkan beberapa nisab, kemudian ia memberikan zakatnya itu justru hanya kepada pembantu- pembantu tersebut tanpa menyebut/ memperhatikan upah.
Sahkah zakat tersebut sekaligus sebagai upah pembantu-pembantu tersebut?
Jawab : Zakat tersebut sah pada zohirnya, bila orang tersebut ( pembantu-pembantu itu ) termasuk salah satu dari asnaf yang ada. Tetapi hampa dari pahala, Ibarat Kitab : “ bugyatul mustarsyidin “ halaman ; 106 menyatakan sebagai berikut:
نعم ان اعطا ه بقصد صلته بها لخد مته احبط ثو ا به و ان اجزات ظا هرا
Artinya : Jika ada pemberiannya ( kepada pembantu-pembantu itu ) di maksudkan sebagai shilah karana khidmahnya ( bekerja dengan dia ) maka di hapuslah pahalanya walaupun memadai pada zahirnya berlainan halnya dengan pembantu rumah tangga ( anaka akon istilah sasak “ ) yang di tanggung makan dan minumnya dan pakiannya , maka tidak sah di berikan zakat padanya. Kecuali kalau dia termasuk shanaful garimin( fatwa Ibnu ziad )



Zakat untuk membangun Masjid
Usul 19 / B;5: Sampai manakah batas zakat yang boleh di pakai untuk membangun Masjid?
Jawab : Masjid tidak termasuk dan bukan salah satu dari asnaf yang delapan sekalipun ada Ulama’ yang mentafsirkan “ sabilillah “ dengan secara umum. Menurut kami cara yang paling tepat ialah : Panitia berhutang untuk pembangunan yang nantinya di beri zakat untuk membayar utangnya dari sahmul garimin ( bagian untuk orang yamg berhutang ).sekalipun dia kaya.

Zakat tanaman
Usul 27 / B;5: Seorang petani mempunyai sawah ladang di luar desanya, setelah panen padi ia memperoleh hasil 300 ikat/ senisab. Sebelum di perhitungkan ongkos membajak, mengetam, harga pupuk dan lain sebagainya.pertayaannya:
a. Dalam hal tersebut wajibkah mengeluarkan zakatnya?
b. Bolehkah mengelarkan zakat pada penduduk desa di mana sawah itu berada?
c. Bolehkah di berikan zakat pada anak – anak yang belum mumayiz / belum balig?
Jawab: ( a ) :Zakat tanaman itu ada 2 macam : 1 . se-usur ( seper sepuluh ).2.Nispul usur ( lima persen ). Macam kedua ini biasnaya terlalu berat , seperti di pikulkan air dengan unta dan sebagainya, adapun macam pertama yaitu yang di airi dengan air hujan atau dengan air kali meskipun ada biaya tetapi tidak begitu berat, seperti rabuk, dalam hal ini tetap wajib seusur ( sepuluh persen ), Adapun membajak tidak di perhitungkan, karana baik di airi dengan hujan atau dengan air kali mesti di bajak
( b ): Memang seharusnya di berikan zakat itu kepada orang-orang yang berada di desa tempat sawah itu berada. Di dalam kitab An-Nur halaman 155 juzu’I iabaratnya sebagai berikut:
اذا كان الما لك ببلد والمال ببلد اخر فالاعتبار ببلد الطال فيجب صرف العشر الي فقر اء بلد الارض التي حصل العشر منها
Artinya : Apabila ada pemilik di suatu desa dan harta yang di zakatkan di desa lain maka yang di ‘itibar tempat berbedanya harta itu, maka wajib di beri zakat itu kepada fakir miskin di desa tempat sawah tersebut.
( c ) : Anak yang belum Mumayyiz yang ada walinya yang menafkahinya tidak sah di beri zakat dan anak yatim yang kaya belum mumayyiz itu tidak sah pula di beri zakat. Adapun anak yatim yang miskin maka sah di beri zakat yaitu dengan di serahkan kepada yang memeliharanya.

Zakat padi
Usul 13/ B;6 : Ada seorang mengetam padi menghasilkan 1 ton dengan di potong drapannya jadi ongkos mengetam 1 Kwintal . Apakah derapannya itu wajib di zakatkan?
Jawab : Satu ton belum cukup satu nisab. Jadi belum wajib zakatnya. Kecuali jika satu ton itu merupakan hasil balit yang akan di gabungkan dengan hasil tahun, atau sebaliknya, baru wajib di zakatkan. Dan derapannya wajib di hitung serta wajib pula di zakatkan. Dan kalau pokoknya tidak wajib di zakatkan, maka derapan itu pula tidak wajib di zakatkan


Zakat Tanaman (2 )
Usul 5/B;8: Berapa Kg ( Kilu geran ) berat satu nisab pada zakat Tanaman ?
Jawab: Zakat tanam-tanaman ( Biji-bijian ) nisabnya =300 gantang fitrah, karana bijian tidak sama beratnya , misalnya 300 gantang beras tidak sama beratnya dengan 300 gantang kacang hijau, maka dari itu yang di I’tibar pada biji-bijian keuntungan bukan keuntungan, cobalah timbang 300 gantang beras atau 300 gantang Kacang hijau atau yang lainnya engkau ketahui beratnya dengan kilauannya.

Menjual Zakat Padi
Usul 8 / B;8: Apakah boleh kita menjual zakat padi atau lainnya, lantas bayaranya kita berikan kepada orang yang berhak menerimanaya ( Mustahiqqin )
Jawab: Menurut mazhab Imam Syafi’I , menjual zakat kemudian di berikan kepada si mustahiqqin itu tidak sah, baik zakat itu zakat fitrah atau lainnya. Sebabnya karana di tasarrufkan kepada miliknya, maka dari itu orang yang menjual padi yang sudah tua di sawah tidak sah pada kadar zakatnya, ini pun atas qaul “ Tafriks sifqah”. Adapun dalam mazhab imam Hanafi sah di berikan bayar zakat itu kepada mustahiqqin.

Zakat kepada Anak
yang menuntut Ilmu
Usul 19/B;7: Semua orang yang berjuang di jalan Allah apakah termasuk di dalam fi sabilillah? Kalau memang termasik, mohon penjelasan. Apakah syah kita memberikan zakat kepada anak kita yang sedang menuntut Ilmu?
Jawab: Kalimat “ Fi sabilillah” di dalam ayat sedekat ( Zakat ) itu kebanyakan Ulama’ mentafsirkan dengan “ orang yang perang sabil , tapi Imam Pahrurrozi “ dalam Tafsirnya menjelaskan :
و اعلم ان ظاهر اللفظ في قو له ( في سبيل الله ) لا يو جب القصر علي الغز ا ة او غيرهم
Dengan demikian telah terjawab Usul penanya, Adapun memberikan zakat kepada “ anak” yaitu : akalu anak tersebut wajib di nafkahi oleh bapaknya maka tidak sah di beri zakat dan kalau tidak ajib di nafkahi oleh bapaknya sah di berikan zakat padanya. Kecuali anak wanita, wajib di nafkahi sampai kawin الي ان تزوج ))

Taubatnya orang yang
meninggalkan Zakat
Usul 17 /B;2 ;Bagaimanakah caranya bertaubat seseorang yang pernah meninggalkan Zakat Hartanya?
Jawab: Orang yang pernah meninggalkan zakat hartanya, wajib mengqadha’ yang di tinggalkanya itu , sama halnya dengan mengqadha’ sembahyang yang di tinggalkan . serta wajib pula bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat taubat seperti di bawah ini :
1. Benar-benar menyesal atas perbuatan yang telah lalu
2. Berhenti mengerjakan larangan terebut
3. Berazam ( bercita-cita ) untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya.

Zakat di pakai membeli pakaian shalat
Usul 15/B;6: Seseorang mengeluarkan zakat tijarahnya sebanayak Rp;100 ribu kemudian uang tersebut di pakai untuk membelikan pakaian shalat.
a. Sahkah zakat itu dengan memberikan pakaian tersebut?
b. Sahkah zakat itu di berikan kepada orang wanita? Sedangkan asnaf yang delapan di terangkan dalam Al – Qur’an dengan lafaz Muzakkar?
c. Juga pada Asnaf yang delapan itu dengan memakai lafaz jama’, sahkah kalau kita berzakat pada satu atau dua orang saja?
Jawab:
a. Zakat tijarah wajib di bayarkan dengan uang pokok modal ( benda yang di pakai sebagai modal ) dari tijarah tersebut dan tidak sah dengan yang laiannya.
b. Kalau wanita termasuk salah satu dari sebagain asnaf itu , seperti dia fakir atau miskin atau garimah dan sebagainya lagi pula tidak ada yang menafkahinya, wanita seperti ini justru lebih utama dari laki-laki , karana da’ifnya. Di sebutkan di dalam Al-Qur’an dengan lafaz muzakkar adalah “ Mim babit Taglib “ seperti اقيموا الصلا ة و ا تو االز كا ة
c. Memang menurut Mazhab Imam kita Imam Syafi’I , wajib di ratakan semua asnaf yang ada, masing-masing sekurang-kurangnya 3 orang,akan tetapi banyak pula para ulama’ dari golongan Mazhab Syafi’I yang berpendapat tidak wajib di ratakan semua asnaf tersebut sebagaimana di terangkan dalamkitab “ I’anatut Talibin “ sedangkan menurut Mazhab Maliki sah memberikan zakat sekalipun kepada seseorang saja. Qalal Ulama’ “ Perbedaan pendapat Ummat adalah Rahmah”.

Zakat tanaman
yang tidak di ketahui pemiliknya
Usul 15/ B;3: seorang menjumpai tanaman padi yang belum di ketan di tengah hutan, dan tidak di ketahui si penanam/ pemiliknya, kemudian yang menjumpai itu mengetamnya sampai menghasilkan satu Nisab. Bagaimanakah masalah Zakatnya?
Jawab : Pdai terebut wajib di tanykan / di cari pemilik / penanam. Masalah zakat wajib di keluarkan bila cukup senisab, hanya saja yang berhak mengeluarkan zakat tersebut adalah pemilik/ penanamnya atau wakil maupun pesuruh dari pemilik / penanamnya sedangkan orang yang menjumpai/ pemungut itu tidak berhak mengeluarkan zakatnya sekalipun mengeluarkan zakat itu:
مما يقبل النيا بة
Tetap harus dengan izin dari pemiliknya, dalam masalah ini pemungut harus menunggu sampai pemiliknya di jumpai, bila belum di jumpai pemiliknya sampai lebih kurang satu tahun, maka pemungut itu boleh ia tamalluk padi tersebut dengan lafaz:
تملكت هذه اللقطة
Di sertai dengan niat akan mengembalikan/ menggantinya di kemudian hari kalau pemilik padi yang sebenarnya atau warisnya sudah di jumpai. Dengan demikian barulah sah si pemungut mengeluarkan zakatnya.

Mengumpulkan
dua hasil Panen untuk berzakat
Usul 35 / B;3 : Petani yang panen dalam setahun dua kali dengan perincian sebagai berikut :
a. Panen pertama kurang dari satu Nisab
b. Panen kedua juga kurang dari satu Nisab
Dan Jika di kumpulkan hasil panen pertama dan hasil kedua baru mencapai senisab. Wajibkah si petani itu berzakat ?
Jawab ; Orang yang panen dua kali setahun dan jika di kumpulkan hasil panen yang pertama dan hasil panen yang kedua mencukupi senisab maka wajib di keluarkan zakatnya. Demikian pula terhadap pertanyaan di atas, karana pengeluaran zakat itu di lakukan pada panen yang kedua, sedangkan panen yang pertama belum wajib karena belum di ketahui hasil panen yang kedua atau tidak menanam padi lagi.


Mengeluarkan Zakat
pada desa di mana sawah itu berada
Usul 4/ B;6: Seorang petani mempunyai sawah di luar desanya, setelah panen padi, ia memperoleh hasil sebanyak 300 Ikat ( senisab ) yakni sebelum di keluarkan ongkos- ongkos membajak, mengetam, harga pupuk dan lain sebagainya. Pertanyaannya:
a. Dalam masalah tersebut wajibkah mengeluarkan zakatnya?
b. Bolehkah mengeluarkan zakat pada penduduk desa di mana sawah itu berada?
c. Bolehkah zakat tersebut di berikan pada anak-anak yang belum mumaiz / belum baliq ?
Jawab:
a. Masalah zakat tanaman itu kalau hasilnya satu nisab kotor wajib di keluarkan zakatnya : 10 % tidak di potong biaya membajak, begitu pula tidak di perhitungkan harga rabok ( pupuk ) ongkos ngome atau ongkos ngetam, karana sedikitnya atau karana tidak beratnya perkerjaan itu.. berlanan halnya kalau biaya tersebut sangat berat seperti misalnya memilul air dengan hewan dan sebaginya, maka dalam hal ini kewajibannya membayar zakat dari : 10 % menurun menjadi : 5 %
b. Boleh , bahkan wajib memberikan zakat kepada fakir miskin di mana sawah itu berada, karan telah di jealaskan dalam kitab “ Anwar “ bagi Asabili “ Juzu’ I Halaman 155 sebagai berikut :
اذ ا كا ن الما لك ببلد و الما ل ببلد اخر فالا عتبار ببلد الما ل فيجب صرف العشر الي فقر اء بلد الا رض التي حصل العشر منها
c. Anak yang belum Mumayiz / belum baligh kalau dia yatim lagi miskin, sah di beri zakat, tetapi Wali atau pengasuhnya yang menerimakannnya, kalau anak yang belum mumayiz / belum baligh itu ada bapaknya, maka tidak sah di beri zakat.


Lihat Artikel lainya yang berkaitan dengan :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar